Langsung ke konten utama

Antara Tarawih yang Maju dan Tugas Kuliah yang Tak Kenal Waktu


Beberapa hari sebelum ramadhan tiba, saya kepikiran ingin membuat projek menulis selama ramadhan, 1 hari 1 tulisan, hitung-hitung menguji diri sendiri. Saya sudah meminta AI untuk bantu membuat konsep, termasuk apa saja yang akan saya tulis setiap harinya. Tapi, kamu tau apa yang terjadi? Sebelum masuk ramadhan pun saya sudah diberi projek menulis makalah oleh dosen. Emejing. AI-nya pun geleng-geleng mengetahui hal ini. Ternyata Tuhan langsung memberi saya projek yang lebih cepat daripada yang saya rencanakan.
Dengan tugas makalah yang saya dapat itu tentunya projek 1 hari 1 tulisan dalam versi saya sendiri berubah menjadi 1 hari 1 jeritan. Ayo coba bayangkan, setelah libur semester yang beberapa bulan itu, pertemuan pertama langsung pemberian tugas dan pertemuan kedua langsung presentasi makalah. Pertemuan kedua itu adalah hari keempat dari kick off bulan puasa. Tapi, Alhamdulillah semuanya berjalan ”lancar” dan saya bersyukur karena 12 pertemuan tersisa saya hanya perlu hadir kelas dan mendengarkan teman-teman saya “dinasehati” oleh dosen.
Ya begitulah satu bentuk culture shock di dunia perkuliahan.
Ramadhan sudah separuh jalan dan disadari atau tidak, tarawih semakin maju. Coba saja bandingkan dengan tanggal-tanggal muda bulan puasa, shaf tarawih terkadang penuh hingga belakang. Semakin hari tarawih semakin maju, dari 8 shaf ke 6 shaf, dari 6 ke 4, hingga pemain bertahan liga tarawih yang masih tetap aktif di lapangan tersisa 3 baris. 2 baris di depan khusuk hingga finish witir, baris paling belakang ngacir keluar masjid dan dengan tidak berdosanya membakar petasan. Ketika petasan meledak dan memicu kemarahan para jamaah, pelaku bersembunyi. Kalo gitu sih halal untuk dimaki-maki.
Ramadhan sudah separuh jalan, tarawih sepi pengunjung, jalanan kota ramai dipadati kendaraan. Banyak orang-orang keluar ke jalan pada malam hari ini biasanya karena satu alasan, mereka hendak mencari tempat jual pakaian untuk lebaran. Wajar dong begitu. Saat hari raya kan kita dianjurkan memakai pakaian yang baru. Tapi disarankan beli baju barunya sebelum ramadhan aja ya, biar tarawihnya gak semakin maju.
Ada fenomena lain yang sepertinya ini menarik. Munculnya sosok peri yang bernama Mimi, yang kemudian menyebut dirinya sebagai Mimi Peri. Beberapa pekan sebelum memasuki ramadhan, beliau ini muncul ke permukaan. Mimi Peri sadar kalau event besar-besaran seperti ramadhan ini sudah hampir datang, makanya dia yang asalnya raib dari media sosial kembali menghibur para warganet dengan suara lenguhan khasnya.
Saya kaget pas tau kalau di jajaran video TikToknya ada satu video yang memanggil nama saya untuk bangun sahur. Saya jadi semangat untuk menguninstall TikTok.

Engga becanda deng.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punya Temen Polos dan Bisu, Namanya...

Saya suka menulis diary. Bukan yang habis makan pedes-pedes terus ke toilet itu ya, itu diare. Ini diary, atau catatan harian. Dalam catatan itu saya bercerita tentang kegiatan keseharian saya yang ragam suka dan duka. Karena waktu itu saya masih di pesantren, maka dengan padatnya kegiatan di sana saya berusaha menyempatkan diri menulis pada sore hari sebelum maghrib berkumandang. Habis mandi sekitar jam 4 sore (yang kemudian oleh keluarga saya dikomen, ‘apa gak terlalu awal kamu mandinya?’) saya akan ganti baju dan bersiap ke pasarean. Karena tidak bisa mengaji ke pasarean 3 kali sehari, maka yang satu ini sangat-sangat saya usahakan. Nah habis dari pasarean itu saya ke masjid dan duduk di tempat istiqomah, bersandar pada pilar masjid atau orang Madura biasa menyebutnya ‘Pang-pang’. (Padahal di sisi lain ‘Pang-pang’ juga nama jajan. Tapi pang-pang yang ini gak bisa dimakan. Emang ada yang makan pilar masjid?) setelah duduk, saya membuka buku diary dan mulai menulis catatan...

Saya Akan Mimisan Setiap Hari Kalau Tidak Ada Kalian: Catatan SIF 2026

Ruas jalan kabupaten ramai oleh lalu lalang kendaraan. Masyarakat beraktivitas mengisi sore hari dengan jogging, jajan, atau hanya sekedar ngobrol santai di trotoar. Apalagi di area taman pendopo Ronggosukowati, pedagang kaki lima berjejer menunggu pembeli. Waktu itu, saya dan panitia V-Fest—yang notabene-nya adalah teman kelas KPI—sedang mempersiapkan acara closing ceremony di peringgitan pendopo Ronggosukowati. Kami menata kursi, memasang banner, pameran foto, meja check-in, menggelar karpet merah, dekorasi bunga dan lainnya. Saat sedang khusyuk prepare itu, saya dipanggil oleh salah seorang teman, katanya ada yang ingin bertemu. “Lan, ada yang punya perlu. Sana ke musholla,” ucap teman saya. Sekilas saya masih melanjutkan pekerjaan, sedikit mengabaikan panggilan itu. Hingga beberapa menit setelahnya, Mufti—orang yang jarang ngobrol dengan saya (kecuali ada hal penting)—datang dan mengajak saya segera ke musholla samping pendopo. Terpaksa saya kesampingkan pekerjaan dan berjalan ...

Awal Mulanya Suka Menulis

Saya menyukai dunia tulis menulis sejak masih berada di pesantren. Pada tahun 2017, saya dihantarkan oleh keluarga dan beberapa tetangga naik bus mini ke pondok pesantren dimana saya akan menimba ilmu. Saya mondok berdua dengan teman. Tapi di pertengahan tahun kedua dia berhenti dan saya hidup sendirian tidak memiiki teman yang sekampung. Sedih, tapi saya tidak mau gugur hanya karena alasan itu. Saya sekamar dengan teman-teman yang notabene-nya berasal dari pantura. Ada dari Tamberu, Karang Anyar, Ketapang, Sokobanah dan lain-lain. Maka tidak heran jika pernah sesekali saya dianggap berasal dari tempat yang sama dengan mereka. Padahal yang bilang itu rumahnya dekat dengan saya. Saya cukup dekat dengan orang Karang Anyar yang sekamar dengan saya waktu itu. Ada kak Badrut, kak Naqib, kak Sholeh dan beberapa lainnya yang sudah agak lupa karena memang ini sudah lama sekali. Di suatu saat, saya tak sengaja membaca buku milik kak Badrut, dan waktu itu orangnya sedang tidak ada. Kebetulan ada...

Ini Bukan Sekedar Konten-Kontenan

Halo semua. Ini kali kesekian saya berbagi tulisan di blog, setelah waktu tersita oleh hal-hal lain yang lebih penting seperti kuliah, tugas, dan acara. Hingga hal-hal lainnya yang dibuat seakan-akan penting seperti scroll medsos dan nonton dangdut Indosiar. Duh. Pada akhirnya, konsisten nulis hanyalah wacana. Dunia perkuliahan mengenalkan saya pada banyak hal yang sebelumnya memang saya sudah penasaran, bagaimana orang-orang bisa tampil di dunia digital dengan personanya masing-masing? Rasa penasaran itu akhirnya terjawab oleh tugas-tugas kuliah yang salah satunya adalah memanfaatkan media digital. Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan segala dinamika kehidupan saat ini, tentu sangat relevan dengan media digital seperti YouTube, Instagram, dan lainnya. Karena orang-orang sekarang ngumpulnya di sana semua, jadi dalam penyebaran dakwah pun kita harus terus relevan dengan zaman. Hal itu yang kemudian membuat saya dan teman-teman kelas diajak untuk mencoba dan mengetahui bagaimana dunia...

Hilang untuk Healing: Tiga Hari yang Mengajarkan Arti Pulang

  Meja-meja terisi pelanggan. Satu-dua kelompok bermain domino, menonton pertandingan sepak bola, mengobrol sambil sesekali menyeruput kopi. Setelah seharian beraktivitas, orang-orang kelelahan ini bertemu untuk saling berbagi rasa semangat, lalu saling mengingatkan bahwa besok kita masih hidup dan akan berjuang lagi. Ini sebuah awal dari tiga hari yang bermakna dalam perjalanan hidup kami. Hari di mana kami sadar tentang pentingnya solidaritas dan relasi. Semua dimulai di warung kopi, tempat saya dan teman-teman melepas penat dari kesibukan perkuliahan. Melihat betapa membosankannya libur kuliah yang hanya diisi keluar masuk warung kopi, kami merencanakan pelarian ke Yogyakarta. Niat hati agar bisa refreshing dan sesekali ke luar Madura. Kami—Alan, Ikhtiar, Adan, dan Fikri—sudah saling mengenal di pesantren sejak tahun 2022, yang kemudian bertemu kembali dalam satu almamater yang sama, UIN Madura. Rencana ini kami beri nama Hilang untuk Healing. Saya urus rencana perjalanan, A...

Konsekuensi yang Harus Diterima

Selama enam tahun belajar di pesantren dan setahun mengabdi di salah satu lembaga di daerah pantura di Pamekasan, saya mendapat konsekuensi yang memang seharusnya saya terima. Interaksi saya dengan teman-teman di sekitaran rumah ini menjadi berkurang dan lambat laun menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing. Padahal sebelum tahun 2017, semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Kami kemana-mana bersama, menghabiskan akhir pekan di alun-alun, mandi di sungai saat jam istirahat madrasah, main PS kelamaan sampai orangtua marah sambil mengangkat sapu bilang, ‘Main PS mloloh, pas ta’ engak se moleyah!!’ Seiring berjalannya waktu, semua itu hanya menjadi kenangan semata. Sekarang kita bisa saja membeli 10 bola plastik di warung, tapi kita tidak bisa membeli momen keseruan kita saat bermain bola waktu kecil. Itu mahal sekali, dan tidak ada satupun warung yang menjualnya. Kalau memang ada, sepertinya warung itu akan jadi saingan Warung Madura yang buka 24 jam yang katanya...

Menolak Arus, Menjemput Tenang: Mengapa Saya Tidak Perlu Menjelaskan Alasan ke Banyak Orang

  Saat ini, saya sedang ada di kondisi menolak sekian tawaran dari orang untuk melakukan sesuatu. Kecuali projek desain dan info ngopi dari sobat karib. Tentunya ini masalah kepentingan, baik individu atau kelompok. Kalau teman-teman saya membaca ini, saya yakin mereka paling tidak bisa menebak arahnya kemana. Dari hati yang dalam (ya, gak terlalu dalam banget sih), manusia berhak membuat pilihan. Karena saya manusia, orang-orang itu juga manusia, semuanya berhak untuk hal yang sama. Jadi, semua ini hanya tentang menghormati pilihan manusia lain saja. Pastinya, segala sesuatu terjadi karena ada alasan yang mendasari. Saya ngulik Corel sampe tengah malam alasannya karena ada projek. Pak ustad pagi-pagi habis subuh baca nama-nama almarhum di toa masjid, itu karena ada khotmil qur’an. Beberapa waktu lalu, orang-orang sengaja nunda sholat Isya karena mau nonton Valen DA7. Tapi apakah alasan-alasan itu harus semua orang tau? Yah, bisa jadi memang penting untuk semua orang tau. Orang...

Dari Pesantren ke Kampus: Adaptasi, Drama Maba sampai Dosen Baik Hati

Setelah boyong dari pesantren, saya sudah memantapkan diri melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai banyak tahapan, termasuk saya yang ditawarkan untuk kembali ke pesantren dan drama tidak lulus masuk seleksi kampus jalur Mandiri Prestasi. Saya kembali mendaftar di jalur UM-PTKIN dan syukurnya lulus. Masuklah ke dunia perkuliahan. Berkenalan dengan teman baru, tempat baru, aktivitas baru dan tentunya dari semua itu saya memiliki kebiasaan baru. Saya yang awalnya membuka WhatsApp hanya untuk menonton keseharian orang-orang lewat story—bahkan yang story-nya sampe menjadi titik-titik kecil berderet seperti kereta api—berubah dan bertambah, jadi disibukkan dengan grup-grup baru. Grup angkatan, grup kelas, grup matakuliah, grup angkatan yang tidak ada katingnya (yang konon dikatakan grup ini dibuat agar kita bisa sepuasnya menghujat kating yang sok keras saat ospek). Grup-grup itu ramai dengan beragam topik pembahasan. Grup angkatan yang ada katingnya berisi topik tanya-tanya ten...